Aku Lelah Membaca, Aku Hanya Ingin Ayah

Temanku pernah bilang ini padaku, “kamu kan mending, kalau ada masalah langsung bisa lari ke membaca. La aku?”

Aku sungguh tidak mengerti kenapa sampai dia berpikiran begitu. Bagaimana bisa dia berpikir bahwa dengan membaca segala masalahku selesai? Bagaimana bisa dia berpikir dengan membaca akan membuat rasa sakit ku menghilang? Membaca memang bisa dijadikan hiburan. Namun mencurahkan perasaan lewat bercerita pada orang yang siap mendengarkan, itu jauh lebih melegakan.

Hanya karena aku terlihat senang membaca, bukan berarti aku tak butuh untuk di dengarkan. Ada saat dimana ketika aku mendengarkan curhatan orang lain dan berusaha memahami mereka, aku juga ingin di dengar kan balik. Aku juga ingin merasakan bagaimana di dengarkan tanpa di ceramahi atau di banding”kan dengan masalah orang lain.

Aku butuh seseorang yang mampu membuatku mencurahkan segala luka dengan lega. Tapi orang-orang seperti itu ada dimana? Siapa yang akan mengerti betapa terlukanya hidup dan tumbuh tanpa sosok ayah?

Kebanyakan orang hanya ingin di dengarkan. Kebanyakan orang justru bersikap menggurui ketika aku mencurahkan isi pikiran dan masalah hidupku. Lama-lama aku lelah mendengarkan. Lama-lama aku lelah di datangi hanya untuk dimanfaatkan telinga dan empatiku.

Aku lelah menangis diam-diam

setiap malam. Aku lelah memaksakan diri menerima kenyataan, bahwa sosok ayah yang mencintai putrinya, itu tidak ada dalam kamus hidupku. Aku lelah menghibur diri dengan membaca. Aku lelah melarikan diri dari masalah dengan beralih pada tumpukan buku.

Dan yang paling melelahkan, mimpi-mimpi yang kupaksa tenggelam, tetap saja naik ke permukaan. Mimpi tentang ayah yang duduk di sampingku dan mendengarkan segala keluh kesahku.


Sabtu, 26 Desember 2020