Dari Jendela SMP dan Ingatan Masa Itu

Belakangan ini lagi seneng nonton sinetron Dari Jendela SMP. Sebenarnya menonton tv sudah bukan lagi kebiasaan ku. Lebih enak bermain smartphone dan membaca novel online.

Namun ketika main ke kos bersama seorang teman, kebiasaan nonton tv itu muncul. Karena tidak tahu apa yang seru untuk dilakukan, akhirnya kami memilih untuk bersantai dengan menonton tv.

Kami hanya berdua di kos. Kami mulai menonton sinetron itu di episode ke tiga. Menurutku, memang ceritanya lebih bagus dibanding sinetron lain. Apalagi dengan lagu yang mengiringinya. Mengajak penonton untuk bernostalgia.

Selesai menonton tv, kami berdua berbincang tentang masa-masa SMP. Ini bukan tentang bagaimana awal kami mengenal cinta. Tidak. Masa SMP ku tidak seromantis itu.

Sebenarnya aku bersekolah di Madrasah Tsanawiyah. Itu setingkat SMP, namun materi keagamaan lebih banyak diberikan di banding dengan SMP.

Kisahku dengan si tokoh utama sangat berbeda. Ketika Wulan mengenal Joko dan mereka pacaran di waktu SMP. Diusia itu, aku justru masih kebingungan bagaimana cara mencari teman.

Saat itu kelas 7, aku menjadi murid paling pendiam di kelas. Ada rasa takut yang saat itu tak bisa kupahami. Suasana kelas benar-benar membuatku keringat dingin. Tawa dari segerombolan murid yang sedang bercengkrama, riuhnya kelas saat ada yang melontarkan kalimat lucu, dan beberapa orang yang kadang mencoba mengajakku berbincang. Semua itu membuatku takut.

Suaraku kecil, bahkan teman sebangku ku terkadang kesulitan mendengarnya. Padahal, rasanya aku sudah mengeluarkan seluruh tenagaku untuk bersuara.

Kepalaku terasa penuh dengan hal kecil yang kupikirkan terlalu dalam. karena tak ada yang bisa dilakukan, aku memilih menjadi pengamat. Mendengar apa yang biasa orang bicarakan. Melihat bagaimana mereka bertingkah. Kukira dari situ aku bisa belajar menjadi seperti mereka, aku ingin terlihat ‘normal’.

Nyatanya, aku semakin merasa aneh. Tak ada orang sepertiku. Tak ada yang kesulitan merangkai kata hanya untuk basa-basi. Tak ada yang bicaranya sepelan suaraku. Ini sangat menyiksa.

Kenapa aku tak bisa mencari teman akrab? Bagaimana rasanya punya sahabat? Bagaimana rasanya berbincang seru dan tertawa bersama teman-teman. Apakah hanya aku yang punya sifat seperti ini di sekolah? Apakah di sekolah lain ada murid sepertiku? Apakah aku orang paling aneh di dunia? Kenapa aku tak bisa senormal yang lain? Apa ini artinya aku punya kelainan jiwa? Apakah ada yang salah dengan otakku? Tapi bukankah aku bisa mengerjakan tugas dengan baik? Atau apakah orang gila diluar sana juga berpikir? Apakah ini awal menjadi orang gila?

Pikiranku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru membuatku semakin merasa buruk. Tak ada jawaban yang tiba-tiba muncul. Aku hanya bisa berdoa dan berharap suatu hari aku bisa menemukan sahabat.

Yeah.. aku murid kesepian.


Selasa, 7 Juli 2020

Aku Ingin Bicara

INFP

Terkadang aku berada dititik benci banget sama kepribadian ini. Dimana aku lebih memilih memendam rasa sakit. Lalu tersenyum kepada orang yang menyakitiku. Betapa mulianya? Ah, tidak. Itu justru semakin menggerogoti hidupku. Mulutku terkunci, tapi batinku menjerit. Disaat yang sama, aku masih mendengarkan dan mencoba memahami orang yang justru membuat hatiku perih. Ini menyiksaku, sungguh.

Aku ingin bicara.

Aku ingin bicara

Aku ingin bicara

Banyak yang bilang kalau perkataan ku tajam. Apalagi pas kalau marah. Makanya aku cenderung menahan amarah. Takut kalau kata-kata yang meluncur akan begitu sangat menyakiti.

Tapi kenapa orang-orang juga tak menyadari apa yang mereka katakan? Apa mereka tidak sadar kalau kalimat yang mereka lontarkan begitu sangat menyakitkan? Begitu mengkerdilkan diriku.

Aku benci, saat punya hak bicara, justru memilih bungkam. Hanya karena takut merasa bersalah. Hanya karena takut menyakiti.

Aku memeluk perihku sendiri. Membiarkan mereka tertawa tanpa menyadari bahwa ada yang tengah mereka lukai.

Bagaimana cara membuat orang-orang mengerti, tanpa perlu saling melukai?

Ujung-ujungnya aku akan merebahkan diri. Menyembunyikan kepalaku kedalam selimut. Melampiaskan emosi lewat tangis. Sedikit lega, tapi tetap saja, ada titik yang masih sakit.

Akan jauh lebih melegakan jika aku mengatakan yang sebenarnya. Tak perlu menyembunyikan luka. Aku benci pura-pura kuat. Aku ingin bicara.


Minggu, 17 Mei 2020

Sepotong Hati Untuk Balas Budi

Bagaimana aku mesti bersikap, cinta?

Kau dulunya asing

Kita sebatas tau nama

Mengobral sapa basa-basi

Hanya saja, semua tak sama lagi

Sejak kau bukakan pintu

Tempatku memasuki mimpi

Tak ada yang gratis

Aku mengerti

Inginku ucap trimakasih

Tapi kau tahu? Aku pemalu

Ah, kita bisa menjadi teman bukan?

Bukankah yang tengah kita lakukan adalah simbiosis mutualisme

Saling memberi manfaat

Aku tak berhutang padamu

Kita sama-sama mencoba maju

Aku keliru

Ternyata aku mesti membayar mu
Dengan sepotong hatiku

Dan kamu tidak tahu

Tak pernah merasa menerima

Biasa saja

Cinta..

Mesti bagaimana aku bersikap?

Aku tak bisa menjadi teman

Tak ada kata akrab

Aku hanya ingin mencipta sekat

Maaf, aku hanya melindungi diri

Jika kau anggap aku tak balas Budi

Kau hanya tak menyadari

Tentang sepotong hati yang kau bawa pergi


Minggu, 10 Mei 2020

Mimpi

Mimpi membuatku terbentur, patah

Hingga mataku basah

Tapi ingatlah

Dari mimpi tercipta kisah

Tentang dia yang mampu menghalau resah

Tentang si kerdil

Yang kini secerah bintang

Dan mereka

Yang membusungkan dada dengan tatapan menghina

Kini hanya menganga terpana


Sabtu, 25 April 2020

Sakit Gigi Di Usia 20 tahun

Perlu kalian ketahui bahwa dua gigi ku sudah berlubang. Iya, aku yang baru berusia 20 tahun. Baru aja mau beranjak pada yang namanya usia dewasa. Sayangnya, justru di usia ini aku sudah terkena masalah gigi.

Aku suka rasa manis dan rasa asam. Susah banget buat ninggalin 2 rasa itu. Bahkan ketika aku menyadari ada setitik lubang di gigiku. Aku masih saja tergoda pada makanan manis. Hanya, aku lebih sering menyikat gigi.

Tak terasa, lama-kelamaan gigiku semakin berlubang hingga aku mulai mengalami ngilu. Dan itu sangat menyiksa sekali saat aku menyikat gigi di malam hari. Apalagi suhu di Salatiga yang terbilang dingin. Gigiku yang mulai sensitif itu, langsung ngilu saat tersentuh air dingin.

Aku sudah punya niatan untuk tambal gigi. Tapi ya, belum benar- benar serius untuk mencari informasi tentang dokter gigi. Sampai di titik di mana sakit gigiku tak tertahankan lagi. Bahkan kepalaku ikut sakit. Obat-obatan yang biasanya ku minum saat ngilu muncul, kini sudah tidak bisa meredakan. Mungkin sakit gigiku memang sudah begitu parah.

Aku ingin segera memeriksakan diri, tapi nenekku yang begitu percaya pada hitung-hitungannya (ya, kau tau kan orang Jawa) memilihkan ku hari yang baik untuk periksa gigi. Aku hanya bisa menurut. Jujur aku tidak tahu dan tidak paham. Aku hanya tak ingin memicu konflik dengan ngeyel untuk segera periksa. Meskipun rasanya takut jika sakitku semakin parah, tapi aku tetap memilih menunggu. 2/3 hari nggak papa lah, yang sabar.

Sakit gigiku muncul lagi. Semakin parah. Semakin sakit. Bahkan sampai ke ubun-ubun. Rasanya setengah kepalaku seperti di tusuk-tusuk jarum. Aku terus memegangi kepala. Berusaha terus memijat, berharap bisa sedikit meredakan. Namun rasanya tetap saja sakit. Ingin selali menarik-narik rambutku sekencang mungkin.

“Aku tidak kuat. Aku sudah kesal. Aku sudah lelah. Aku tidak tahan.” Keluhku sambil terus menangis. Beberapa obat sudah tidak manjur. Ibuku memberikanku pil yang berbeda, mungkin dosisnya lebih tinggi. Aku meminumnya. Masih saja kepalaku sakit.

“Baca istighfar dek.” Ucap ibuku..

Aku terus beristighfar untuk menenangkan diri. Merasakan ngilu yang menjalar dari gusi ke kepala. Aku tidak tau lagi apa yang mesti kulakukan. Aku hanya bisa mencoba tetap tenang. Sampai aku tertidur.

Ngiluku mulai reda setelah bangun tidur. Obatnya sedikit manjur, sepertinya. Bersyukur, meskipun tetap tidak bisa untuk mengunyah.

Malam harinya, tiba-tiba tubuhku menggigil, sampai gigiku bergemeletuk. Dingin. Aku menatap kakakku dan dia sama sekali tidak terlihat kedinginan.

“Apa mungkin aku overdosis obat ya?” Ucapku.

“Mungkin, bisa jadi karena itu.” Kata kakakku.

Kalau saat kedinginan, enaknya minum jahe anget. Tapi aku sudah bertekad untuk tidak minum selain air putih. Iya, aku juga tidak mau makan-makanan manis. Aku sekuat tenaga menghindarinya. Rasanya menyebalkan, tiap menemukan roti di sekitar, rasanya aku ingin membantingnya atau membuangnya ke tempat sampah. Ingin sekali marah ketika melihat orang-orang dengan santainya nyemil yang manis-manis. Bagaimanapun, itu salahku sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk memakai selimut dan tidur.

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Aku bisa memeriksakan gigi. Aku datang ke puskesmas di daerahku.

“Giginya kenapa mbak?”

“Sakit gigi Bu. Berlubang.”

Aku di beri resep obat. Kupikir aku akan di tanya lebih banyak, taunya hanya di periksa sebentar.

“Kalau mau tambal gigi bisa Bu?” Aku tidak mau kalau harus minum obat. Iya kalau manjur, kalau sakit lagi gimana? Nggak kuat dahh..

“Ya itu yang penting di minum dulu obatnya.”

Aku bungkam.

Obat itu habis setelah sekitar 4 hari. Aku kesana lagi. Berharap hari itu bisa menambal gigi.

“Masih sakit gigi ya mbak?”

“Iya.”

“Ya, ini di beri obat lagi.”

“Kalau mau nambal gigi gimana Bu? Bisa ndak?”

“Nggak bisa mbak, nunggu covid hilang dulu.”

“Tapi Bu, ini udah nggak bisa di buat makan.”

“Nggak bisa mbak, kecuali kalau bener-bener darurat. Kalau mau tambal gigi, nanti akhir Mei kalau nggak awal Juni.”

Gubrakk!!

Harapanku runtuh.

Satu bulan? Aku mesti menunggu satu bulan lebih.

Aku, kamu, kalian, kita semua.. berharap Corona segera sirna…

Aku sangat menunggu.

Semoga~

Pliss, untuk kalian, jaga gigi baik-baik. Jangan kayak aku🙈🙈


Kamis, 23 April 2020

Yang Asyik Dari Membaca Novel

Pernahkah kau tidur begitu larut demi merampungkan membaca novel? Novel yang bagus membuat kita ingin terus menjelajahinya hingga ke halaman terakhir. Aku pernah membaca novel Harry Potter yang tebal itu, dari sehabis Maghrib sampai jam 10 malam. Pernah juga membaca novel di wattpad sampai jam 3 pagi. Ada banyak hal mengasyikkan yang bisa kita temukan saat membaca novel:

Kata-Kata yang Menggugah

Apa kau suka mengkoleksi quote? Kita bisa menemukan banyak kutipan-kutipan indah di dalam novel. Rasanya seperti menemukan bintang ketika menatap langit. Begitu cemerlang dan indah. Membuat kita ingin menyimpannya. Baru-baru ini aku membaca novel terjemahan “Great Expectations” penulis novel itu adalah Charles Dickens. Ada beberapa kutipan indah yang menyentuh hatiku,

“Tentu saja kita tak perlu malu akan air mata kita, karena airmata adalah hujan yang membasahi debu bumi yang membutakan,melunakkan hati kita yang keras. Usai menangis, aku merasa lebih
baik usai daripada sebelumnya”

“Di dunia
kecil tempat anak-anak memperoleh jati dirinya dari siapa pun yang
mengasuhnya, tidak ada yang lebih melukai daripada perlakuan
tidak adil. Perlakuan tersebut mungkin sepele, tetapi anak-anak
adalah makhluk kecil di dunia yang kecil—bahkan mainan kuda￾kudaannya pun lebih tinggi darinya, menjulang seperti pemburu
Irlandia bertulang besar.”

“Singkat
kata, aku terlalu pengecut untuk melakukan sesuatu yang kuyakini
kebenarannya, sebagaimana aku terlalu pengecut untuk menghindari
sesuatu yang kusadari kesalahannya. Aku belum punya banyak pengalaman ketika itu, dan aku tidak meniru siapa-siapa dalam bersikap.
Bagaikan seorang genius, aku merancang tindakanku sendiri.”

Terkadang kutipan indah mampu membuat kita merasa di mengerti, di semangati, atau bahkan membuat kita terinspirasi.

Bertemu dengan Karakter Spesial

Pernah jatuh cinta pada tokoh novel? Atau justru kamu menemukan karakter novel yang mirip sekali denganmu?

Menurutku, novel yang enak di baca berulang-ulang adalah novel dengan karakter yang selalu di rindukan pembaca. Di Novel Harry Potter, aku merasa memiliki keterikatan dengan karakter Neville Longbottom dan Luna Lovegood. Neville bocah pemalu dan penakut, sedangkan Luna adalah karakter yang menurutku, memiliki imajinasi yang tinggi hingga membuat tingkahnya terlihat unik dan sulit dipahami.

Dilan dan Nathan adalah contoh yang beberapa waktu ini tengah digandrungi para remaja Indonesia. Tipe karakter badboy yang romantis. Bikin para remaja meleleh membacanya. Haha… Lalu adakah karakter novel yang membuatmu benar-benar rindu?

Pergi Sejenak dari Kenyataan

Pernah nggak, kamu pengen banget berhenti mikirin seseorang? atau mungkin, pergi sejenak dari masalah yang membuat hidup terasa semakin rumit? Membaca novel bisa menjadi solusi yang asyik.

Berbeda dari mendengarkan musik atau berjalan-jalan ke tempat rekreasi. Ketika membaca novel, pikiranmu teralihkan. Apa yang ada di kepalamu adalah cerita dalam novel. Cerita dari dunia lain.

Saat membaca, kita pergi ke masa lampau, masa depan, ke tempat yang belum pernah kita kunjungi, atau ke dunia lain yang mengundang decak kagum. Bahkan, kita bisa memposisikan diri menjadi orang lain. Orang dengan masalah dan masa lalu yang berbeda. Ah, bayangkan betapa asyiknya. Itu sebabnya, sebuah novel mampu membuat para pembaca betah menjelajahinya berlama-lama.

Temukan novel favoritmu, mari menjelajah!


Jum’at, 10 April 2020

Perpustakaan Imajiner

Aku sejak SD menyukai perpustakaan. Bersama kawan-kawan, aku biasa mengunjungi perpustakaan dan kadang bermain tebak-tebakan. Seperti apa tebakannya?

Satu orang membaca sejarah kota di Indonesia, lalu yang lain berebutan menebak kota mana yang di maksud. Bagi kami, itu permainan yang seru.

Kami senang sekali saat ada buku-buku baru. Iya, kami mencintai buku. Bagi kami, perpustakaan bukanlah tempat yang membosankan.

Betapa menyebalkannya saat perpustakaan mulai ramai. Bukan, bukan karena para murid mulai berbondong-bondong mencintai buku, tapi karena mereka ingin bermain ular tangga. Ada buku yang di halaman tengahnya berisi permainan ular tangga. Itu membuat para murid jadi berebutan memainkannya. Perpustakaan menjadi ramai, ribut, dan menyebalkan. Semenjak itu, perpustakaan bukan lagi tempat yang menyenangkan.

Lulus SD, aku masuk di sekolah swasta yang tidak mempunyai fasilitas perpustakaan. Kata perpustakaan hanya tertera di dalam browsur penerimaan siswa baru. Di depan gedung kelas, ada ruangan yang para guru menyebutnya perpustakaan. Sedangkan yang kulihat adalah itu koperasi dengan tumpukan LKS-LKS bekas. Lalu, mana buku yang biasa menghidupi perpustakaan? Tempat itu bukannya diisi oleh mereka yang gemar membaca, tapi justru dipenuhi oleh orang-orang pacaran dan anak-anak yang nongkrong sambil main catur. Bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa kalau begitu?

Sedikit lebih beruntung di masa putih abu-abu. Ada sih perpustakaan, isinya buku pelajaran dan segelintir karya sastra plus secuil buku filsafat. Sayangnya gedung itu juga difungsikan jadi ruang TU. Betapa aku ingin misuh-misuh. Seorang guru menyarankan para siswa agar membaca di perpustakaan saat jam istirahat. “Perpustakaan yang mana maksudnya?” Batinku waktu itu.

Beruntung aku punya kakak yang suka membaca. Dia membagikan padaku novel-novel, hasil download dari google. Tentu saja kemudian aku mengikuti jejaknya. Aku mulai berselancar di internet. Mencari link yang membagikan buku-buku gratis. Akhirnya memori hpku penuh dengan novel dan buku-buku. Betapa menyenangkan 😋😋

Sampai suatu malam, saat aku membuka pdf novel, aku tiba-tiba ingin ke kamar mandi untuk buang air. Kuletakkan ponsel di kasur. Kemudian aku lari ke kamar mandi. Sekembalinya aku dari kamar mandi, kutemukan ponselku dengan memori terformat. Ada apa gerangan? Ingin kuteriaaaaakkkkk…!!

Suatu hari aku menyimpulkan, mungkin itu karena aku kualat pada para penulis. Mendownload karya mereka sembarangan. Aku tidak tahu, apakah penulis setuju Jika karyanya di bagikan secara gratis. Ya sudahlah, ratusan pdf dan file lain, hangus semua.

Tingkat literasi Indonesia mungkin bisa di katakan memprihatinkan. Menurutku, di Nusantara kita ini, banyak anak yang tertarik dengan buku. Sayangnya mereka kesulitan untuk menemukan buku.

Kalau sekarang, mereka yang mempunyai smartphone, bisa dengan mudah menemukan bacaan. Lalu bagaimana mereka yang tinggal di pelosok negeri?


Senin, 6 April 2020

Pentingnya Konsisten

Dulu pas waktu masih mahasiswa baru, aku kagum pada seorang kakak tingkat lintas jurusan. Meski baru semester 3, dia sudah membuat buku dan berkali-kali memenangkan lomba esai. Aku ingin seperti dia. Hal itu membangkitkan semangat menulis ku.

Sekarang aku semester 4, dan keinginan itu sampai sekarang belum tercapai. Ternyata konsistensi atau ketekunan itu memang sangat penting.

“Kesuksesan berasal dari 1% inspirasi dan 99% keringat.”

Aku lupa itu kutipan dari siapa. Yang jelas, aku sangat setuju. Waktu ada lomba esai, aku mencoba. Sayangnya butuh waktu yang sangat lama untuk langkah pertama ini. Bahkan sampai batas waktu terlewat, esai itu tidak pernah selesai. Setelah itu aku belum mencoba lagi sampai sekarang.

Lalu apa yang kulakukan selama setahunan ini? Aku terlalu banyak membandingkan diri dengan teman-teman. Terlalu banyak yang kuinginkan. Terlalu banyak yang ingin kuraih. Hingga aku sampai lupa, mana tujuanku sebenarnya.

Aku iri pada temanku yang relasinya banyak. Sibuk banget. Organisasi dimana-mana. Story’ wa nya dibaca ratusan orang. Kalau lagi kumpul, banyak hal yang bisa ia bicarakan. Selalu ada yang menyapanya ketika di kampus. Kenapa teman-temanku bisa seperti itu, sedangkan aku? Justru masih diam, sulit sekali untuk bergaul. Aku iri.

Aku seperti orang linglung yang tak bisa melakukan apapun. Jadinya aku mencoba mengikuti banyak kegiatan. Haruskah aku menaikkan kualitas menulisku, atau aku mestinya menambah relasi? Aku bingung.

Masa kuliah adalah kesempatan untuk membangun relasi sebanyak-banyaknya. Di semester 2, aku mulai meninggalkan dunia tulis menulis. Yah, bukan meninggalkan sepenuhnya. Terkadang, aku masih menulis di ponsel. Beberapa kali juga mengikuti lomba sastra, tapi tak lagi mencoba esai. Semester 2 adalah masa dimana banyak sekali pilihan-pilihan. Banyak sekali hal-hal membingungkan. Aku masih belum menemukan arah hidupku. Usiaku saat itu 19, masa remaja akhir. Masa transisi antara remaja menuju dewasa.

Sepertinya memang aku sulit meninggalkan tulis menulis. Semester 3, aku kembali menulis diary. Aku merasakan bahwa ketika aku menulis, hidupku jadi lebih terarah. Bukan hanya mengikuti kata teman.

Di semester 3 ini, aku mencoba kembali aktif di UKM. Tempat melatih skill kepenulisan.

Ketika mimpimu, yang begitu indah..

Tak pernah terwujud..

Ya sudahlah…

Apa yang terlewat, biarlah menjadi pelajaran. Mari kembali merajut mimpi. Tahu tentang teori Malcom Gladwell? Hukum 10.000 jam. Bahwa seseorang dapat menjadi ahli di suatu bidang, ketika sudah melakukan latihan minimal 10.000 jam.

Intinya, kita perlu fokus, perlu konsisten dalam meraih mimpi. Lalu soal relasi? Bukankah sangat menyenangkan berteman dengan orang-orang dengan minat bakat yang sama? Kau bisa berteman, tanpa perlu melupakan mimpi. Justru, berjuang bersama-sama meraih mimpi.


Kamis, 2 April 2020

Manfaat Yang Kudapatkan Selama Menulis

Mungkin kebanyakan kalian yang berkecimpung di dunia tulis menulis, pasti sudah mengetahui manfaat dari menulis. Disini aku ingin berbagi apa yang kurasakan dan dapatkan setelah mengenal dunia tulisan.

1. Penerimaan Diri

Dulu aku merasa jadi orang paling aneh. Disaat orang-orang bisa berbicara panjang kali lebar, berkenalan tanpa merasa canggung dan malu, atau berkumpul dengan banyak orang tanpa merasa takut, aku justru menjadi orang yang menyingkir. Aku benci pada diriku yang seperti itu.

Semenjak aku mengetahui bahwa menulis dapat dijadikan suatu terapi, aku jadi lebih semangat menulis. Kuusahakan menulis ekspresif setiap hari. Setelah menumpahkan sebanyak mungkin emosi, rasanya lebih lega. Lalu dengan membaca ulang tulisan, membuatku jadi lebih jernih dalam berpikir.

Dari situ kutemukan alasan kenapa aku takut. Sebesar apa rasa takut itu dan bagaimana cara agar aku bisa segera menguranginya. Ku coba memaklumi diri, karena apa yang terjadi padaku itu ada penyebabnya. Jika orang lain mengalami hal yang sama sepertiku, mereka mungkin juga memiliki ketakutan yang sama.

Aku tidak lagi merasa menjadi manusia paling aneh, apalagi berpikir aku tak punya masa depan. Bagaimanapun, rasa takut itu harus dihadapi. Aku percaya, suatu hari aku bisa berubah.

2. Semakin Cinta Membaca

“Kok tulisanku kayak gini ya.”

“Aku pengen tulisanku semakin bagus. Aku pengen tulisanku semakin enak di baca.”

“Aku pengen menulis dengan lancar.”

Cara untuk menjadikan tulisan semakin baik, berisi, dan bermakna adalah dengan membaca. Melalui membaca, kita semakin kaya akan kosa kata, pengetahuan dan pemahaman. Apalagi jika membaca novel. Kita akan banyak melihat sudut pandang, juga kata-kata indah yang bisa kita temukan.

Aku ingin tulisanku semakin baik, makanya aku semangat untuk membaca. Lama-lama kalau nggak baca buku, rasanya berat. Dulu pas masih mahasiswa baru, aku semangat sekali ke perpustakaan. Apalagi kalau udah melototin judul buku yang berjejer. Rasanya seperti ada yang meletup letup di hati. Apakah ini cinta? Haha…

3. Menemukan Cita-Cita

“Jadi penulis itu gajinya sedikit. Harus benar-benar kreatif. Susah buat mencukupi kehidupanmu nanti.” Ucap ibuku saat aku ingin mengambil jurusan Sastra Indonesia.

Aku tahu, menjadi penulis kemungkinan penghasilannya kurang memuaskan. Sebenarnya saat itu aku belum bercita-cita menjadi penulis. Aku hanya tengah tertarik dengan sastra. Betapa menyenangkan membayangkan bisa bertemu orang-orang dengan kesukaan yang sama pada sastra. Tapi pada akhirnya aku tidak jadi mengambil jurusan itu. Biayanya tidak terjangkau oleh ekonomi keluarga kami.

Meskipun akhirnya aku mengambil jurusan yang berbeda dengan minatku, tapi aku mengikuti UKM. Dimana di UKM tersebut juga mempelajari sastra. Hal itu membuatku semakin suka menulis.

Salah jurusan itu tidak enak. Hal itu membuatku gelisah. bagaimana dengan profesiku nanti? Kuatkah aku jika harus terus berkecimpung pada bidang yang tak kuminati?

Di semester 3, kuputuskan untuk memilih menulis sebagai profesiku nanti. Ya, meskipun nanti hasil yang kudapatkan tidak seberapa, tapi setidaknya aku berada di bidang yang membuatku berproses dengan nyaman.

Sebenarnya banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan melalui menulis. 3 hal diatas adalah sebagian dari manfaat yang aku dapatkan dari menulis. Kalau kalian bagaimana?


Senin, 23 Maret 2020