Tersiksanya Jadi Introvert

Sejak kecil, aku sudah terbiasa memendam masalahku sendirian. Aku tidak terlalu dekat dengan ibuku. Ibuku sudah bekerja sejak aku masih kanak-kanak. Berangkat pagi bahkan sering kali saat aku belum bangun tidur dan pulang saat aku akan tidur. Dulu, aku tidak mengeluh akan hal itu, tapi sekarang aku baru menyadarinya.

Aku nggak tau gimana rasanya curhat sama Ibu. Aku nggak tau gimana rasanya ditanya ibuku bagaimana sekolahku. Aku nggak tau gimana rasanya di rangkul oleh ibu saat menangis karena ketakutan.

Setiap mendapat masalah Aku berusaha memendamnya. Aku berusaha tidak menangis. Terkadang Aku berpikir Untuk menceritakannya pada ibuku. Tapi, Aku tidak tau bagaimana harus bercerita. Aku juga tidak ingin membuat ibuku lebih susah.

Jadi, Aku lebih banyak diam. Bahkan, ketika Aku mengalami yang namanya di kucilkan. Aku tetap diam. Aku merasa iri dengan orang lain yang bisa bercerita panjang lebar. Sedangkan Aku, berusaha kuat Untuk terlihat baik-baik saja.

Aku ingin sekali merubah hidupku. Aku ingin merasakan gimana menjadi orang yang ekstrovert. Yang nggak perlu menyembunyikan setiap kesedihannya. Yang selalu tertawa riang bersama temannya yang banyak. Nggak takut jadi pusat perhatian. Nggak takut menatap mata lawan bicara. Aku iri.

Aku sudah berusaha untuk menjadi lebih terbuka. Tapi, setiap aku mencoba membuka diri dengan dunia sosial, aku merasa aku hanya jadi pengganggu. Aku merasa sangat tidak nyaman dan takut. Bahkan, seringkali telapak tanganku mengeluarjan keringat dingin. Aku sangat gugup.

Aku selalu bertanya-tanya, butuh berapa lama lagi untukku bisa berubah?

Aku lelah, selalu memendam bebanku sendiri. Aku lelah selalu ketakutan pada hal yang pasti kutemui setiap hari. Aku lelah, terus iri dengan teman-temanku. Aku lelah, karena terus-terusan menjadi pengamat. Aku lelah, terus menangis dalam diam.

Aku ingin, ada seseorang yang mau mendengar keluh kesahku. Aku ingin, ada seseorang yang bertanya keadaanku. Aku ingin, ada seseorang yang menyemangatiku untuk tidak menyerah. Aku ingin di sambut dengan senyum saat pulang sekolah. Aku ingin menangis di pelukan orang itu.

Ibu…

Aku butuh sosok ibu yang senantiasa hadir menemaniku. Aku ingin, ibu yang pertama mendengar keluh kesahku. Aku ingin, ibu yang pertama menghapus air di mataku ketika aku merasa sedih.

Andai aku di beri kesempatan memutar waktu. Aku ingin kembali menjadi anak kecil yang selalu mendapat perhatian dari ibuku. Aku ingin memanfaatkan waktu ku sebaik mungkin dengan ibuku.

Aku sayang ibu…
Aku butuh ibu..

You’re My Everything

                                                                          
Kayaknya judulnya nggak pas ya?
Biarinlah:D
24-08-2017

Advertisements

Sepertiga Malam

Aku berharap malam terjadi begitu panjang
Aku ingin menghirup napas dalam-dalam
Aroma ketenangan yang hanya terhirup di malam yang sunyi
Ketika Tuhan datang menghampiri
Untuk hambanya yang bangun dan mulai memuji
Untuk hambanya yang di kasihi
Untuk butiran air mata yang jatuh dari hati
Aku, hambamu yang dosanya semakin mengalir
Bersama tetesan air mata yang jatuh..
Kuharap dosa ku kian runtuh
Dan imanku semakin teguh
Aku, hambamu yang jarang sekali patuh
Aku, hambamu yang seringkali terjatuh
Ku mohon..tuntunlah aku
Jangan biarkan aku menjauh

                                                                                                        
19-08-2017

Intro

Untuk yang selalu tumbuh disaat jiwanya semakin rapuh.
Untuk yang ingin bersembunyi di tengah kegelapan malam yang sepi nan sunyi.
Aku berdoa. Semoga semua ini cepat sirna.
Aku ingin berhenti menampakkan senyum palsuku.
Aku menyesal.
Ini sudah enam tahun.
Ini sudah berlalu.
Aku tak mampu mengembalikan waktuku.
Apa yang harus kulakukan?
Bagaimana aku menjalani hidupku?
aku terlalu lelah terombang ambing.
Menatap mereka yang kubenci terbang melayang dengan riangnya.
sakit…
Perih..
Sampai kapan?
Aku sudah terlalu rapuh.
aku ingin bebas.
Perlu berapa lama lagi aku harus menangis?
Ya Allah..
Ampuni aku..
Yang tak bisa mensyukuri hidupku.
Yang tak mampu melihat betapa indahnya dunia milik Mu.
Tolonglah hambamu yang rapuh ini..
Yang tak mengerti cara untuk pergi.
menjauh dari rasa sakit yang terus menghantui.

17/08/2017

How

Bagaimana agar aku dapat berpikir besar?
Ketika yang kuingat hanyalah masa lalu yang kelam.
Bagaimana agar aku bisa melakukan hal besar?
Kalau untuk berdiri saja aku masih butuh bantuan.
Bagaimana aku bisa yakin menjadi besar kalau pada diriku saja aku tak bisa menerima?
Bagaimana aku bisa memasuki pikiran mereka dan mengubahnya menjadi besar?
Kalau jalan hidupku saja tak pernah melebar.
Aku memang suka berhayal, tapi aku terlalu takut untuk berharap.

Bertemu

Awalnya Andi hanya berpikir bahwa sekolah benar-benar membosankan. Lalu, Tiba-tiba sebuah ide buruk muncul di pikirannya.

Apalagi kalau bukan membolos.

Jadi, ia memutuskan untuk turun dari bus lima puluh meter dari sekolahnya.

Andi tau kalau apa yang dilakukannya ini sangat buruk. Tapi menurutnya, itu tidak lebih buruk ketimbang menjadi gila di sekolah karena kelewat bosan.

Andi berpikir sejenak. Bertanya tanya, akan kemana ia sekarang?
Karena bingung harus kemana, Andi memutuskan untuk berjalan saja tanpa arah.

“Ah! Membosankan!”
Katanya sambil menendang botol plastik di depannya.

Entah kenapa Andi merasa bosan. Ia bertanya-tanya, kenapa lebih membosankan dibanding pelajaran penjaskes di sekolah?
bukankah ia membolos karena bosan. Kenapa tidak seseru sebelumnya?

Ya! ini kedua kalinya Andi membolos.

“Jangan di tendang dong! Ini berharga tau!”

Andi menoleh ke sumber suara. Ia melihat seorang anak laki-laki yang sebaya dengannya. Anak itu memakai pakaian lusuh.

Andi terkejut.

Andi tau suara itu. Andi ingat orang itu.

Bagaimana Andi bisa lupa? Sahabatnya yang setahun lalu terpaksa putus sekolah. Ia tak akan pernah lupa.

“Farhan, itu kamu?!”

“Bukan! Tengkorak.” Farhan mengambil botol plastik yang di tendang Andi barusan. “Kamu kok disini?” Lanjutnya.

“Ah, aku..itu, em… eh! gimana kabar nenekmu? Masih sehatkan?”

Farhan tersenyum. Sudah hapal watak sahabatnya itu.

“Mau lihat nenekku?” Tawarnya.

“Mau! Mau!”

——-*
Farhan memberi segelas air putih pada Andi.
“Nih! Kamu haus kan.”

“Eh, iya.”

Andi meneguk minumannya sambil memandang neneknya Farhan yang terbaring diatas kasur. Terlihat semakin kurus dari terakhir kali ia bertemu.

“Kamu kok nggak bilang kalo  nenekmu lagi sakit? Kita kan bisa minta tolong pada ayahku.”

“Nggak papa kok Ndi! Kata nenek, dia cuma butuh istirahat saja. Nanti juga sembuh. Nenek ku kan kuat.” Farhan tersenyum ceria yang terlihat dipaksakan.

Andi ingin bertanya banyak pada Farhan. Seperti kapan kamu balik sekolah lagi, kapan kita bolos lagi dan setelah lulus masuk SMP mana.

Tapi, Melihat keadaan sahabatnya itu, ia terpaksa menelan bulat pertanyaannya.

“Oh, Iya ya! Nenekmu kan hebat! semoga cepat sembuh ya nek!”
Karna bingung apa yang harus dibicarakan dan merasa malu, akhirnya Andi memutuskan untuk pamit.

“Farhan, aku pergi dulu ya. Udah terlambat nih!”

Farhan melirik jam. Andi benar-benar jujur.

“Ya, hati-hati!”
                                                                
01-07-2017

Kenangan

Terkadang, hal yang kita pikir membosankan, bisa jadi suatu saat nanti menjadi kenangan tak terlupakan. Seperti halnya yang terjadi pada Thalita.

Waktu istirahat yang berlangsung selama 30 menit itu sama sekali tak membuat seorang gadis kecil pergi keluar kelas. Niat pun tidak. Ia hanya terus menempelkan kepalanya diatas meja. Jari-jarinya menggesek-gesek permukaan di meja. Ia sedang malas beranjak dari kursi.

“Thalita!”

Panggil dua gadis kecil memakai seragam merah putih. Seragam yang sama di pakai oleh Thalita. Mereka berlari kecil menghampiri Thalita.

Yang di sebut namanya spontan mendongak. Menghentikan kegiatan menempelkan kepala ketika melihat dua sahabatnya menghampirinya.

“Thalita, ikut kami yuk! Aku dan Ila mau tunjukin sesuatu. Bagus banget deh. Nggak bohong. Ayo!!” Kata Alika sambil menarik lengan Thalita.

“Nunjukkin apa sih?” Tanya Thalita malas. Meskipun begitu, ia tetap mengikuti ajakan kedua sahabatnya itu.

Mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah lapangan rumput dekat sekolah.
Lalu alika dan Ila merentangkan tangan di depan Thalita dan berseru

Tadaaa!! Lambang persahabatan kita!!” Kata mereka berdua memperlihatkan sesuatu berwarna hijau tertancap diatas tanah.

“Rumput 3 sahabat. Baguskan?” tanya Ila.

“Yeyy!!” Kata alika sambil bertepuk tangan

Thalita hanya tersenyum hambar melihat apa yang ditunjukan kedua sahabatnya itu. Kecewa. Ya, ia merasa sedikit kecewa. Meski ia sudah biasa
dengan tingkah laku temannya itu.

“Rumputnya ada tiga. Ini Kamu, ini aku, ini rumput Ila. Pas kan?” kata Alika. Jarinya menunjuk 3 rumput berdampingan yang lebih besar di banding rumput disekitarnya.

Thalita hanya mengangguk sesekali atau menanggapi sekenanya perkataan-perkataan sahabatnya. Menurutnya, kedua sahabatnya itu terlalu berlebihan. Rasanya, dia ingin segera kembali kedalam kelas. Ia merasa bosan.

Tapi, ia tidak tau, kejadian membosankan itu akan selalu diingatnya sampai bertahun tahun, sampai mereka lulus sekolah dasar, bahkan sampai mereka bertiga memilih kehidupan masing-masing.

Ia tidak tau. Suatu saat nanti ia akan sangat merindukan kejadian itu. Rindu kebersamaan dengan kedua sahabatnya.
                                                                         
28-05-2017

Sahabat

Apa itu sahabat?
Apakah seseorang yang selalu menemanimu?
Apakah seseorang yang selalu mendengar ceritamu?
Apakah seseorang yang selalu membuatmu tersenyum?
Apakah seseorang yang menghapus air matamu?
Apakah seseorang yang memberikan apapun untukmu?
Bahkan nyawanya sekalipun?
Lalu, bagaimana jika dia meninggalkanmu?
Bagaimana jika dia mengecewakanmu?
Bagaimana jika dia membuatmu menangis?
Bagaimana jika dia berhianat?
Apa kau masih menyebutnya sahabat?
Atau kau menyebutnya penghianat?
Atau mungkin musuh?
                                                                                 
27-05-2017

Surga di Malam Hari

Kupandangi titik-titik kecil yang bersinar terang
Bersama bulan, terangi gelapnya malam.
Kini kusadari
Telah kulihat surga di malam hari
Hatiku menangis
Menyesalkan segala hal
Bagaimana aku mengeluh, menangis, dan menyerah
Berpikir bahwa dunia tak pernah indah
Nyatanya, pikiranku salah
Nyatanya, Tuhan senantiasa menyajikan keindahan
Meski saat kegelapan hadir sekalipun
                                                                  
22-05-2017

Pencuri Mangga.

“Ayo Put! Yang diatasmu! Diatas kepalamu! Iyaa. Yang itu!”
Ragil berteriak pada seseorang diatas pohon tanpa repot-repot mengurangi volume suaranya.

“Yang banyak Put! Cepetan ngambilnya!”.

“Iya, nggak usah cerewet  kayak Chika!” Putra menggerutu sebal. Mendengar teriakan Ragil tak membantunya sama sekali. Malah, membuat bingung dan gemetar karena takut ketahuan.

“Siapa yang teriak-teriak sih ?!! Ganggu orang lagi tidur!!” Teriak suara yang berasal dari dalam sebuah rumah pemilik pohon mangga.

“Putra! Cepetan turun! kita ketahuan!” Kata Ragil mengambil sebuah mangga ditanah dan lari terbirit-birit meninggalkan putra yang masih diatas pohon.

“Woi bocah! Jangan lari! Woi! Berhenti! dasar pencuri!” Teriak lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari rumah. Pak Rahmat namanya. Matanya menemukan anak laki-laki diatas pohon mangga miliknya.

Putra ketahuan.

“Woi turun kamu bocah!”.

Putra turun dari pohon dengan kaki gemetar dan perasaan takut sekaligus kesal karena ditinggal. Dalam hati menggerutu karna punya teman tak tau diuntung.

Karena tidak hati-hati putra terjatuh dari pohon.
“ADUH!!”.

“Syukurin! Makanya jangan suka mencuri! kualat kamu!!” Pak Rahmat sambil menjewer telinga kiri Putra.

“Aduh-aduh !! Sakit Pak! Maafin saya!” Kata Pumtra kembali mengaduh kesakitan.

“Enak saja. Ikut saya dulu! biar bapak kasih kamu hukuman biar jera! duduk disini dulu!”

Putra terpaksa menuruti perintah pak Rahmat. Ia ketakutan sekaligus merasa bersalah. Ini pertama kalinya dia mencuri. Dan celakanya langsung ketahuan.

Pak rahmat mengambil mangga yang tergeletak ditanah yang baru saja diambil dari pohonnya. Ia lalu kembali menghampiri putra.

“Anak-anak jaman sekarang..masih kecil udah berani mencuri. Kalau besar jadi apa.” Gerutu pak rahmat. Sedangkan Putra hanya menundukkan kepala tak berani memandang wajah Pak Rahmat. Meskipun sekarang sudah tidak berteriak, tapi melihat wajah Pak Rahmat yang matanya merah karena tidurnya terganggu tetap masih membuatnya takut.

“Kemana teman mu lari? nggak ada sopan-sopannya jadi anak.”
Kata Pak Rahmat. Dia kemudian menghela napas.

“Sepertinya dia pulang,” Kata putra mulai memberanikan diri untuk bicara. “saya minta maaf Pak, sudah mengambil mangga Bapak.” Lanjutnya masih dengan menundukkan kepala.

“Kenapa kamu mencuri? masih pakai seragam sekolah lagi. Jangan-jangan kamu bolos sekolah. Dasar anak nakal!”

“Saya tidak membolos. Baru pulang sekolah. Maaf Pak, ibu saya lagi hamil adik saya. Dia pengen sekali mangga tapi saya nggak punya uang. Maaf Pak saya mencuri mangga Bapak.”  Kata Putra. Dia seperti ingin menangis memikirkan ibunya.

Pak Rahmat memandang curiga pada Putra. Tapi setelah itu ia kembali menghela napas. Melihat Putra yang terlihat ingin menangis, ia jadi terenyuh.

“Memangnya bapak kamu kemana?”

Putra mulai meneteskankan air mata.”Nggak tau
Pak. Kata ibu saya dia pergi ke Jakarta. Saya sudah lama nggak ketemu bapak.”

“Eh, jangan nangis! anak laki-laki kok cengeng. Kamu beneran mau mangga?” Tawar Pak Rahmat.

Putra menghapus air matanya dan mengangguk bersemangat.

“Iya Pak, Saya mau.”
“Nah, kalau gitu kamu panjat lagi pohon mangga saya! cari mangga yang sudah masak. Cari yang banyak lho!!”

“Iya Pak!”
“Panggil saja saya Pak Rahmat”

Lalu Putra pun kembali memanjat pohon mmangga. Meskipun kaki dan badannya masih sakit gara-gara terjatuh tadi, tapi Putra  memanjat dengan perasaan   senang.

Setelah turun dari pohon mangga, Putra mengumpulkan mangga yang sudah diambilnya dan   diberikan pada Pak Rahmat.

“Bagus, bagus. Kamu duduk dan minum dulu.” Pak Rahmat  memberikan segelas air putih lalu mengambil beberapa mangga dan dimasukannya kedalam kantong  plastik berwarna hitam.

“Siapa namamu Nak?”
“Putra Pak.”
“Iya, Putra ini buat kamu, tapi  kamu harus janji kalau kamu bakal jadi anak yang jujur dan tidak akan mencuri lagi.”
“Iya Pak, saya janji.”

Setelah mendapat mangga, Putra  pun berterima kasih dan pamit pulang. Ia pulang  dengan  perasaan  senang. Ia benar-benar  berjanji tak akan mencuri lagi. Ia menyesal dan sudah kapok. Lain kali jika Ragil mengajaknya mencuri, ia tak akan mau. Ah, ingat nama Ragil jadi membuatnya kesal.

Awas ya Ragil!!

Tak Salah

Alya merebahkan tubuhnya diatas kasur. Seragam osis nya masih ia pakai. Terlalu malas untuk berganti pakaian. Hari ini, ia merasa sangat sedih.

Sesaat kemudian, air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia menangis. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya.
“Apa salahnya mengeluarkan pendapat dan mengkritik?” batin Alya.

Sudah berhari-hari teman-teman Alya menjauhinya. Mereka marah padanya. Terlalu mengkritisi para guru dan peraturan-peraturan sekolah yang jarang di tegakkan.

Karena hal itu, peraturan sekolah semakin ketat dan banyak murid yang di hukum karena melakukan pelanggaran. Mereka lalu melampiaskan kekesalan pada Alya.

“Sok pintar, sok hebat , sok disiplin.” kata beberapa teman Alya.

Diam-diam mereka membuat kesepakatan bersama untuk menjauhi Alya. Sebenarnya ada yang tidak setuju, tapi mereka  memilih cari amannya saja.

Akhirnya Alya tak punya teman. Dan tentu saja itu membuatnya sedih. Meskipun para Guru di sekolah baik padanya dan semakin akrab dengan Alya. Tetap saja, ia butuh teman-temannya.

Belum lima menit Alya menangis, terdengar ketukan di pintu kamarnya.

“Boleh masuk nggak?” kata suara di balik pintu. Itu suara sepupu Alya.
“Nggak boleh!” jawab Alya. Tapi dia sudah tau kalau sepupunya itu tak akan pergi dan malah membuka pintu untuk menghampirinya.

“Oh..terimakasih” kata sepupu Alya. Lalu ia melompat keatas kasur dan berbaring.

“Keras kepala banget sih, Cit.”
“Hehe..biarin. Dari pada cengeng.” jawab Citra sarkatis.
Alya spontan menghapus air mata di pipinya.
“Pergi sana!” Usir Alya tak serius.

Citra memandang langit-langit kamar Alya. Ia senang berada di sini. Kamar dengan nuansa biru laut.
“Kamu ada masalah apa sih, sampai nangis gitu?”
“Terlalu penasaran dapat menyulitkanmu.”
“Yei! Di tanya baik baik malah sok bijak.”

“Kamu pernah bilang, Kita harus berani mengutarakan apa yang ada di pikiran Kita.”

“Itu kata Ayahku.” Sahut citra. Ia jadi rindu pada ayahnya nun jauh disana.

“Aku Sudah melakukannya. Tapi-”
“Kau dijauhi teman temanmu atau ada guru yang memarahimu? Kutebak, pasti yang pertama yang benar.”

“Kok kamu bisa tau?”

“Aku pernah mengalaminya. Aku juga menangis saat itu. Tapi, ayahku bilang itu tak akan lama. Lagi pula, Aku kan murid pintar. Mana bisa mereka menjauhiku terlalu lama.”

“Pamer mode on.” Kata Alya.

“Pamer sedikit kan nggak ada salahnya. Cuma bercanda. Kembali ke topik. Yang pasti Aku yakin suatu saat mereka akan berbalik bertrimakasih padAku. Tuhan itu Adil. Jadi, jika Aku tau Aku melakukan sesuatu yang benar, aKu tak perlu merasa bersalah. Karena Aku memang tak salah. Apa Aku sudah terlihat bijak?”

“Cocok jadi asisten Mario Teguh.” Canda Alya. Lalu mereka berdua tertawa bersama.

“Ah, Aku jadi haus. Mau titip minum?” Kata citra menawari.

“Boleh, asal gratis.” Jawab alya.

Citra bangun dan keluar dari kamar alya. Tapi Alya tau, sepupunya itu bermaksud membiarkan nya sendiri. Meresapi apa yang barusan mereka bicarakan.

Dalam hatinya, Alya bersyukur sekali mempunyai sepupu seperti Citra.