Kenangan

Terkadang, hal yang kita pikir membosankan, bisa jadi suatu saat nanti menjadi kenangan tak terlupakan. Seperti halnya yang terjadi pada Thalita.

Waktu istirahat yang berlangsung selama 30 menit itu sama sekali tak membuat seorang gadis kecil pergi keluar kelas. Niat pun tidak. Ia hanya terus menempelkan kepalanya diatas meja. Jari-jarinya menggesek-gesek permukaan di meja. Ia sedang malas beranjak dari kursi.

“Thalita!”

Panggil dua gadis kecil memakai seragam merah putih. Seragam yang sama di pakai oleh Thalita. Mereka berlari kecil menghampiri Thalita.

Yang di sebut namanya spontan mendongak. Menghentikan kegiatan menempelkan kepala ketika melihat dua sahabatnya menghampirinya.

“Thalita, ikut kami yuk! Aku dan Ila mau tunjukin sesuatu. Bagus banget deh. Nggak bohong. Ayo!!” Kata Alika sambil menarik lengan Thalita.

“Nunjukkin apa sih?” Tanya Thalita malas. Meskipun begitu, ia tetap mengikuti ajakan kedua sahabatnya itu.

Mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah lapangan rumput dekat sekolah.
Lalu alika dan Ila merentangkan tangan di depan Thalita dan berseru

Tadaaa!! Lambang persahabatan kita!!” Kata mereka berdua memperlihatkan sesuatu berwarna hijau tertancap diatas tanah.

“Rumput 3 sahabat. Baguskan?” tanya Ila.

“Yeyy!!” Kata alika sambil bertepuk tangan

Thalita hanya tersenyum hambar melihat apa yang ditunjukan kedua sahabatnya itu. Kecewa. Ya, ia merasa sedikit kecewa. Meski ia sudah biasa
dengan tingkah laku temannya itu.

“Rumputnya ada tiga. Ini Kamu, ini aku, ini rumput Ila. Pas kan?” kata Alika. Jarinya menunjuk 3 rumput berdampingan yang lebih besar di banding rumput disekitarnya.

Thalita hanya mengangguk sesekali atau menanggapi sekenanya perkataan-perkataan sahabatnya. Menurutnya, kedua sahabatnya itu terlalu berlebihan. Rasanya, dia ingin segera kembali kedalam kelas. Ia merasa bosan.

Tapi, ia tidak tau, kejadian membosankan itu akan selalu diingatnya sampai bertahun tahun, sampai mereka lulus sekolah dasar, bahkan sampai mereka bertiga memilih kehidupan masing-masing.

Ia tidak tau. Suatu saat nanti ia akan sangat merindukan kejadian itu. Rindu kebersamaan dengan kedua sahabatnya.
                                                                         
28-05-2017

Sahabat

Apa itu sahabat?
Apakah seseorang yang selalu menemanimu?
Apakah seseorang yang selalu mendengar ceritamu?
Apakah seseorang yang selalu membuatmu tersenyum?
Apakah seseorang yang menghapus air matamu?
Apakah seseorang yang memberikan apapun untukmu?
Bahkan nyawanya sekalipun?
Lalu, bagaimana jika dia meninggalkanmu?
Bagaimana jika dia mengecewakanmu?
Bagaimana jika dia membuatmu menangis?
Bagaimana jika dia berhianat?
Apa kau masih menyebutnya sahabat?
Atau kau menyebutnya penghianat?
Atau mungkin musuh?
                                                                                 
27-05-2017

Surga di Malam Hari

Kupandangi titik-titik kecil yang bersinar terang
Bersama bulan, terangi gelapnya malam.
Kini kusadari
Telah kulihat surga di malam hari
Hatiku menangis
Menyesalkan segala hal
Bagaimana aku mengeluh, menangis, dan menyerah
Berpikir bahwa dunia tak pernah indah
Nyatanya, pikiranku salah
Nyatanya, Tuhan senantiasa menyajikan keindahan
Meski saat kegelapan hadir sekalipun
                                                                  
22-05-2017

Pencuri Mangga.

“Ayo Put! Yang diatasmu! Diatas kepalamu! Iyaa. Yang itu!”
Ragil berteriak pada seseorang diatas pohon tanpa repot-repot mengurangi volume suaranya.

“Yang banyak Put! Cepetan ngambilnya!”.

“Iya, nggak usah cerewet  kayak Chika!” Putra menggerutu sebal. Mendengar teriakan Ragil tak membantunya sama sekali. Malah, membuat bingung dan gemetar karena takut ketahuan.

“Siapa yang teriak-teriak sih ?!! Ganggu orang lagi tidur!!” Teriak suara yang berasal dari dalam sebuah rumah pemilik pohon mangga.

“Putra! Cepetan turun! kita ketahuan!” Kata Ragil mengambil sebuah mangga ditanah dan lari terbirit-birit meninggalkan putra yang masih diatas pohon.

“Woi bocah! Jangan lari! Woi! Berhenti! dasar pencuri!” Teriak lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari rumah. Pak Rahmat namanya. Matanya menemukan anak laki-laki diatas pohon mangga miliknya.

Putra ketahuan.

“Woi turun kamu bocah!”.

Putra turun dari pohon dengan kaki gemetar dan perasaan takut sekaligus kesal karena ditinggal. Dalam hati menggerutu karna punya teman tak tau diuntung.

Karena tidak hati-hati putra terjatuh dari pohon.
“ADUH!!”.

“Syukurin! Makanya jangan suka mencuri! kualat kamu!!” Pak Rahmat sambil menjewer telinga kiri Putra.

“Aduh-aduh !! Sakit Pak! Maafin saya!” Kata Pumtra kembali mengaduh kesakitan.

“Enak saja. Ikut saya dulu! biar bapak kasih kamu hukuman biar jera! duduk disini dulu!”

Putra terpaksa menuruti perintah pak Rahmat. Ia ketakutan sekaligus merasa bersalah. Ini pertama kalinya dia mencuri. Dan celakanya langsung ketahuan.

Pak rahmat mengambil mangga yang tergeletak ditanah yang baru saja diambil dari pohonnya. Ia lalu kembali menghampiri putra.

“Anak-anak jaman sekarang..masih kecil udah berani mencuri. Kalau besar jadi apa.” Gerutu pak rahmat. Sedangkan Putra hanya menundukkan kepala tak berani memandang wajah Pak Rahmat. Meskipun sekarang sudah tidak berteriak, tapi melihat wajah Pak Rahmat yang matanya merah karena tidurnya terganggu tetap masih membuatnya takut.

“Kemana teman mu lari? nggak ada sopan-sopannya jadi anak.”
Kata Pak Rahmat. Dia kemudian menghela napas.

“Sepertinya dia pulang,” Kata putra mulai memberanikan diri untuk bicara. “saya minta maaf Pak, sudah mengambil mangga Bapak.” Lanjutnya masih dengan menundukkan kepala.

“Kenapa kamu mencuri? masih pakai seragam sekolah lagi. Jangan-jangan kamu bolos sekolah. Dasar anak nakal!”

“Saya tidak membolos. Baru pulang sekolah. Maaf Pak, ibu saya lagi hamil adik saya. Dia pengen sekali mangga tapi saya nggak punya uang. Maaf Pak saya mencuri mangga Bapak.”  Kata Putra. Dia seperti ingin menangis memikirkan ibunya.

Pak Rahmat memandang curiga pada Putra. Tapi setelah itu ia kembali menghela napas. Melihat Putra yang terlihat ingin menangis, ia jadi terenyuh.

“Memangnya bapak kamu kemana?”

Putra mulai meneteskankan air mata.”Nggak tau
Pak. Kata ibu saya dia pergi ke Jakarta. Saya sudah lama nggak ketemu bapak.”

“Eh, jangan nangis! anak laki-laki kok cengeng. Kamu beneran mau mangga?” Tawar Pak Rahmat.

Putra menghapus air matanya dan mengangguk bersemangat.

“Iya Pak, Saya mau.”
“Nah, kalau gitu kamu panjat lagi pohon mangga saya! cari mangga yang sudah masak. Cari yang banyak lho!!”

“Iya Pak!”
“Panggil saja saya Pak Rahmat”

Lalu Putra pun kembali memanjat pohon mmangga. Meskipun kaki dan badannya masih sakit gara-gara terjatuh tadi, tapi Putra  memanjat dengan perasaan   senang.

Setelah turun dari pohon mangga, Putra mengumpulkan mangga yang sudah diambilnya dan   diberikan pada Pak Rahmat.

“Bagus, bagus. Kamu duduk dan minum dulu.” Pak Rahmat  memberikan segelas air putih lalu mengambil beberapa mangga dan dimasukannya kedalam kantong  plastik berwarna hitam.

“Siapa namamu Nak?”
“Putra Pak.”
“Iya, Putra ini buat kamu, tapi  kamu harus janji kalau kamu bakal jadi anak yang jujur dan tidak akan mencuri lagi.”
“Iya Pak, saya janji.”

Setelah mendapat mangga, Putra  pun berterima kasih dan pamit pulang. Ia pulang  dengan  perasaan  senang. Ia benar-benar  berjanji tak akan mencuri lagi. Ia menyesal dan sudah kapok. Lain kali jika Ragil mengajaknya mencuri, ia tak akan mau. Ah, ingat nama Ragil jadi membuatnya kesal.

Awas ya Ragil!!

Tak Salah

Alya merebahkan tubuhnya diatas kasur. Seragam osis nya masih ia pakai. Terlalu malas untuk berganti pakaian. Hari ini, ia merasa sangat sedih.

Sesaat kemudian, air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia menangis. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya.
“Apa salahnya mengeluarkan pendapat dan mengkritik?” batin Alya.

Sudah berhari-hari teman-teman Alya menjauhinya. Mereka marah padanya. Terlalu mengkritisi para guru dan peraturan-peraturan sekolah yang jarang di tegakkan.

Karena hal itu, peraturan sekolah semakin ketat dan banyak murid yang di hukum karena melakukan pelanggaran. Mereka lalu melampiaskan kekesalan pada Alya.

“Sok pintar, sok hebat , sok disiplin.” kata beberapa teman Alya.

Diam-diam mereka membuat kesepakatan bersama untuk menjauhi Alya. Sebenarnya ada yang tidak setuju, tapi mereka  memilih cari amannya saja.

Akhirnya Alya tak punya teman. Dan tentu saja itu membuatnya sedih. Meskipun para Guru di sekolah baik padanya dan semakin akrab dengan Alya. Tetap saja, ia butuh teman-temannya.

Belum lima menit Alya menangis, terdengar ketukan di pintu kamarnya.

“Boleh masuk nggak?” kata suara di balik pintu. Itu suara sepupu Alya.
“Nggak boleh!” jawab Alya. Tapi dia sudah tau kalau sepupunya itu tak akan pergi dan malah membuka pintu untuk menghampirinya.

“Oh..terimakasih” kata sepupu Alya. Lalu ia melompat keatas kasur dan berbaring.

“Keras kepala banget sih, Cit.”
“Hehe..biarin. Dari pada cengeng.” jawab Citra sarkatis.
Alya spontan menghapus air mata di pipinya.
“Pergi sana!” Usir Alya tak serius.

Citra memandang langit-langit kamar Alya. Ia senang berada di sini. Kamar dengan nuansa biru laut.
“Kamu ada masalah apa sih, sampai nangis gitu?”
“Terlalu penasaran dapat menyulitkanmu.”
“Yei! Di tanya baik baik malah sok bijak.”

“Kamu pernah bilang, Kita harus berani mengutarakan apa yang ada di pikiran Kita.”

“Itu kata Ayahku.” Sahut citra. Ia jadi rindu pada ayahnya nun jauh disana.

“Aku Sudah melakukannya. Tapi-”
“Kau dijauhi teman temanmu atau ada guru yang memarahimu? Kutebak, pasti yang pertama yang benar.”

“Kok kamu bisa tau?”

“Aku pernah mengalaminya. Aku juga menangis saat itu. Tapi, ayahku bilang itu tak akan lama. Lagi pula, Aku kan murid pintar. Mana bisa mereka menjauhiku terlalu lama.”

“Pamer mode on.” Kata Alya.

“Pamer sedikit kan nggak ada salahnya. Cuma bercanda. Kembali ke topik. Yang pasti Aku yakin suatu saat mereka akan berbalik bertrimakasih padAku. Tuhan itu Adil. Jadi, jika Aku tau Aku melakukan sesuatu yang benar, aKu tak perlu merasa bersalah. Karena Aku memang tak salah. Apa Aku sudah terlihat bijak?”

“Cocok jadi asisten Mario Teguh.” Canda Alya. Lalu mereka berdua tertawa bersama.

“Ah, Aku jadi haus. Mau titip minum?” Kata citra menawari.

“Boleh, asal gratis.” Jawab alya.

Citra bangun dan keluar dari kamar alya. Tapi Alya tau, sepupunya itu bermaksud membiarkan nya sendiri. Meresapi apa yang barusan mereka bicarakan.

Dalam hatinya, Alya bersyukur sekali mempunyai sepupu seperti Citra.

Terima Kasih Pak Guru

Kutatap lembaran lembaran di depanku dengan ngeri. Seratus lima puluh. Seratus lima puluh SOAL FISIKA! Bayangkan saja. Aku harus mengerjakan soal tersebut dalam waktu tiga hari. Beserta cara menghitungnya. Kuharap aku punya otak cadangan.

Aku merutuki diriku sendiri beserta seluruh penghuni kelasku yang sudah melakukan kesepakatan. Kesepakatan untuk tidak melaksanakan amanah dari Guru kita tercinta.

Kalau waktu bisa diulang. Aku bersumpah akan lebih memilih mengerjakan 10 soal yang mungkin tak sampai membuat otakku membengkak. Bahkan aku bisa mengerjakannya sambil sesekali memikirkan kegiatan apa yang akan kulakukan bersama temanku diakhir pekan nanti.

Tapi sayangnya itu tak pernah terjadi. Kami memilih tidak mengerjakannya dan melakukan kegiatan yang menurut kami menyenangkan. Kesempatan selagi guru fisika sedang tak bisa mengajar.

Kesempatan apanya!! Tanpa terduga guru itu masuk kekelas kami lima belas menit setelah kami mendapat amanat  dan kau pasti sudah menebak apa yang akan terjadi.

Dan disinilah aku. Duduk mengerjakan seratus lima puluh soal yang rasanya membuat kepalaku mau meledak.

Aku melirik jam dinding di kamarku. Pukul sembilan malam. Aku baru mengerjakan setengahnya dan besok harus sudah dikumpulkan.
Kuletakkan kepalaku di atas meja belajar. Sudah tidak kuat mengangkat kepalaku yang rasanya sudah membengkak dua kali lipat.

Kalau bukan karena hukuman yang akan diberikan sekaligus membayangkan betapa menakutkannya Guruku itu ketika marah-marah (Percayalah! Mengerjakan soal jauh lebih baik), aku pasti lebih memilih memejamkan mataku dan menarik selimut di atas kasur yang terlihat berkali-lipat lebih empuk dari biasanya.

Aku menepis khayalanku itu. Aku masih harus mengerjakan 60 soal.
Berat sekali rasanya harus lembur malam ini. Aku yakin besok pagi akan ada lingkaran hitam di sekitar mataku.

Selamat tinggal kasur empuk…
                                                                            
Hai! Salam kenal dari saya penulis blog yang masih belum punya banyak pengetahuan dan pengalaman. Kalau ada yang mau memberi kritik dan saran, saya dengan senang hati menerimanya.

Untuk apa?

Aku berlari lari sekuat tenagaku. Pagi ini adalah pagi yang mengenaskan. Sudah bangun kesiangan. Ketinggalan bus lagi. Aku sampai lupa menyisir rambutku. Aku memang selalu pelupa.

Aku terengah engah. Napasku tak karuan. Tinggal sepuluh meter lagi menuju gerbang. Aku putuskan untuk berjalan kaki saja. Sambil mengatur napasku, Aku berjalan menuju gerbang. Aku tak melihat satupun murid di sekitarku. Terlambat. Aku sudah terlambat.

Lalu untuk apa Aku berlari marathon sejauh ini sampai hampir sekarat?!

Aku menyerah. Aku berjalan dengan loyo menuju gerbang.

Ada yang aneh.

Sampai digerbang Aku tak melihat siapapun. Hanya ada tukang kebun dan kucing miliknya.

Lalu tukang kebun itu menghampiriku.
“Ada apa non?” Tanya tukang kebun dengan heran yang berlebihan.
” kok kelas sepi ya, ada apa sih? Eh, pak tolong bukain gerbangnya dong, please!”

Tukang kebun malah tertawa terbahak bahak!

“Non, masuk mau ketemu siapa!! Kucing saya?!!” Kata tukang kebun sambil tertawa.
“Tau nggak non ini hari apa!!!”

Aku melihat seragam yang Ku kenakan. Osis. Dan Aku yakin ini memang hari senin. Seratus persen!!!

“Ini hari senin lah!!! Kenapa sih pak!!” Jawab Ku kesal.

“Iya ini hari senin. Saya tau non. Tapi, memangnya non nggak tau ini hari libur?”
“Hari libur? APAA!!!!!!!!!”

Tukang kebun itu berjengit mendengar teriakanku.

“Non beneran tidak tau?”

“Eng…gak” kataku menggeleng lemah.
“Kok bisa?”
“Iya. Kelas tiga kan ada acara study tour, Non!”
Aneh. Kenapa Aku sampai tidak tau?
Kuingat ingat lagi alasañya.

Sial!!!!

Selama dua minggu Aku tak berangkat sekolah pergi kerumah nenekku. Dan beruntungnya aku!!! Aku sama sekali percaya pada sahabatku si muka polos tapi jahilnya setengah jagat itu!!!

Menyebalkan!!!!

Sepertinya mukaku mulai memerah menahan kesal.

“Kalau gitu saya pulang dulu”
“Iya non..” Kata tukang kebun itu sambil tersenyum.

Aku menghentakkan kaki Ku dengan kesal. Satu lagi fakta: selain lupa, Aku juga mudah dibodohi.

Lalu, Untuk apa Aku lari marathon sampai keringatku mengucur deras hanya Untuk bertemu KUCINGNYA TUKANG KEBUN??!?!?!????????

Putri Malu

image

Menurutmu, tanaman apa yang paling unik dan keren?

Bagiku, tanaman yang paling unik dan keren adalah Putri Malu.
Putri Malu memang terlihat lemah, hanya karena sentuhan sedikit saja daunnya sudah mengatup.

Meskipun terlihat lemah, tanaman ini memiliki duri tajam yang dapat melukaimu ketika menyentuhnya. Dan dari tanaman ini Aku mendapat sebuah pelajaran, bahwa kita tak boleh meremehkan orang yang terlihat lemah. Dibalik kelemahan, terdapat pula kekuatan.