Lihai

Maafkan aku, terlalu banyak mengkhayalkan kisah bersamamu. Memangnya aku siapa? Aku hanya mahasiswi semester awal yang tak dikenal. Yang bahkan menyapa saja tak mampu. Bersikap seolah tak pernah mengenal. Padahal jantungku meletup-letup ketika mataku tak sengaja menatapmu. Aku sakit. Yang mampu menatapmu hanya dari punggungmu. Wajahmu tercetak jelas dalam ingatanku. Dan setiap pertemuan yang tak disengaja itu, selalu membuat perasaanku bertambah. Aku takut.. aku takut menyimpan sakit yang terus bertambah. Aku adalah hati yang kering akan cinta. Aku adalah hati yang sepi. Aku marah padamu. Atau mungkin, kecewa pada diriku sendiri, betapa aku mudah jatuh cinta, namun tak pernah mudah untuk menunjukkannya. Terlalu lihaikah? Atau aku yang terlalu merasa tak berharga? Aku ingin kau yang melihatku, aku ingin kau yang mendatangiku. Agar aku tahu, bahwa aku bukan orang asing apalagi pengganggu. Terlalu pengecut kah? Mungkin memang begitu. Apa yang bisa kulakukan untukmu? Aku ingin berdoa agar hatimu mau memilihku. Tapi, bagaimana jika ternyata kau tak seperti dalam bayangku? Atau kau tak sesederhana kelihatannya. Ah, kalau hati sudah jatuh, naiknya susah. Susah untuk mengeluarkan apa yang sudah masuk dihati. Apalagi yang sudah melekat. Susah untuk dilepaskan. Sampai kapan aku akan menulis semua rasaku padamu? Bahwa kau adalah pria sederhana yang masuk dalam type idamanku. Justru itulah, tipe idaman adalah ekspektasi paling tinggi. Mimpi yang bertumbuk kenyataan. Yeah, kau hanya mimpi.


Senin, 10 Juni 2019

Advertisements

Lelah

Aku lelah
Pada setumpuk imajinasi yang menjejali kepala
Terbengkalai, kusam, dan berdebu
Tak tersentuh hiruk pikuk dunia
Ia ada, bak mutiara dalam kerang
Namun, tak ada yang mau menyelam
Bersusah payah tenggelam
Tak ada yang mencari
Apalagi menemukan
Ia masih disana
Tenggelam, dari hiruk pikuk dunia
Entah sampai kapan


2 Juni 2019

Paksa

Aku meragu pada keputusanku

Namun sesuatu memaksaku

Melangkah cepat tanpa tersendat

Menyeret ku, tak peduli aku sekarat

Berkali-kali jatuh

Aku dipaksa patuh

Pada jalan yang masih ragu

Untuk kutempuh

Inginku pergi

Namun tak kutemui tepi

Pantaskah aku marah?

Atau haruskah aku mengalah?

Aku yang terlalu lambat

Atau mereka yang tak mau melihat?


rabu, 8 Mei 2019

Kau

Bisakah aku melupakanmu sejenak?

Menutup bayangmu dari pikirku

Kau tau? Dari sudut terjauh pun mataku tetap mengikutimu

Jantungku meletup-letup

Dan puisi indah mengalir dengan derasnya

Menghantam hatiku yang sudah rapuh

Sakit

Sakit tak terkira


4 Mei 2019

Tak Ada Doraemon

Aku ingin begini aku ingin begitu

Ingin ingin ini itu banyak sekali

Rasanya hidupku tak beda jauh dengan karakter Nobita. Aku menginginkan banyak hal. Aku ingin menjadi berguna bagi sekitar. Aku ingin punya prestasi. Aku ingin menjadi seseorang yang di kenal dengan baik. Aku ingin berbaur dengan baik di lingkungan dimana pun tempatku berpijak. Aku ingin ikut berkontribusi dalam organisasi maupun di masyarakat.

Aku menginginkan banyak hal. Sayangnya, disini tak ada Doraemon yang kantong ajaibnya nya bisa mengabulkan banyak hal. Kenyataannya, jika mau mendapatkan sesuatu kita jika harus merelakan sesuatu. Karena tak pernah ada malas yang dapat membuka pintu kesuksesan.


Kamis, 18 April 2019

Sahabat?

Aliya tersentak hatinya. Super duper tak menyangka pada apa yang sekarang di lihatnya. Ia mematung, bak kehilangan nyawa selama berdetik-detik. Ia bahkan tak sadar tengah bernapas atau tidak. Apakah sosok di depannya ini nyata? Ia mengedipkan matanya. Sekali, dua kali, lalu seakan menemukan kembali nyawanya, ia pun mengalihkan pandangan dari objek hidup di depannya. Sekarang mulai salah tingkah.

Iya, ini benar Kak Arya.

“Kenapa Al? Kayak kenal ya?” Tanya Refi dan hanya di jawab Aliya dengan senyum canggung.

“Aku Kakaknya Refi.” Sahut lelaki di depan Aliya dan itu semakin mengejutkan batinnya. Tapi saking bingung mau menjawab apa, akhirnya Aliya hanya menjawab, “oh..” dengan canggung.

“Ya udah yuk, masuk.” Refi menarik lengan Aliya untuk menuju ruang tamu.

“Duduk dulu Al, mau kubuatin minum apa?”

“Kayak biasanya aja.”

“Oke, siap bos!”

Aliya menyandarkan kepalanya di sofa. Pikirannya melayang ke kejadian barusan. Sesuatu yang benar-benar mengejutkan hatinya. Ternyata, orang yang selama ini ia kira adalah orang yang diam-diam di sukai Refi itu kakak Refi sendiri. Tapi, kenapa mereka tidak mirip? Ah, sebenarnya itu bisa saja terjadi. Tapi, bagaimanapun juga mereka tak seperti kakak adik pada umumnya. Seperti saling menghindar. Yang jelas, ada sisi baik yang membuat Aliya tersenyum, kenyataan bahwa Refi tak mungkin mencintai seorang Arya. Dan akhirnya, Aliya bisa bercerita bahwa ia tengah menyukai kakaknya.

“Minumannya sudah datang nyonya..” Refi meletakkan nampan berisi minuman keatas meja. Ia lalu mengambil posisi duduk di samping Aliya.

“Ah, trimakasih.” Aliya langsung mengambil gelas dan meneguk es jeruk kesukaannya. Rasa segar mengaliri tenggorokannya. Sampai berkurang setengah gelas, lalu kembali meletakkan minuman ke meja. Pandangannya beralih pada kripik kentang yang terlihat begitu renyah, dan tangannya pun tak segan untuk mematuk kripik-kripik yang begitu menggoda lalu memasukannya ke dalam mulut. Kress..kriuk

Sedangkan Refi mengambil remote untuk menghidupkan televisi.

“Ref, kok kamu nggak bilang kalau dia itu kakakmu?” Aliya membuka percakapan. Ia ingin mengulik lebih dalam. Jelas, rasa penasarannya sudah begitu menggebu dan tak terbendung. Ini kesempatan emas.

“Nunggu waktu yang tepat.”

“Nunggu waktu yang tepat?” Aliya tak paham. Jawaban tak terduga dan membingungkan.

Refi menghela napas. Seakan mencoba melepaskan beban berat di pundaknya. Ia menoleh memandang wajah penasaran Aliya, “iya, aku pengen cerita sama kamu sejak dulu. Tapi rasanya sulit. Rumit.”

“Kok bisa? Serumit apa?”

Refi hanya diam. Dan itu malah membuat rasa penasaran Aliya berubah menjadi kejengkelan sekaligus ketakutan.

“Ref, bilang aja, ada apa? Ada yang kamu takutkan? Kamu nggak papa kan ref? Atau sebenarnya dia itu jahat?” Aliya berharap pertanyaan terakhir tidak di jawab dengan anggukan. Dan harapannya pun terkabul.

Refi menggeleng, “enggak, dia baik. Kamu tau kenapa aku ngajak kamu kesini?”

Ya mainlah.. batin Aliya. Tapi ia menyangkal batinnya sendiri, ia hanya diam.

“Karena aku mau cerita semuanya ke kamu.”

***

Pernahkah kamu merasakan seperti yang Aliya rasakan? Ketika kamu berpikir bahwa kesempatan yang ditunggu akhirnya datang, begitu bahagianya, begitu senangnya. Tapi, ternyata itu bukan kesempatan. Melainkan bencana.

Aliya berharap detik ini hujan turun dengan derasnya. Membiarkan rambut hitam nya basah. Seragamnya basah, dan sepatunya juga basah. Tapi tidak. Nyatanya, yang basah hanya mata dan pipinya. Ia berjalan kaki sepanjang sore menuju rumahnya. Menangis, layaknya anak remaja yang baru putus cinta.

Putus cinta? Bahkan yang ini jauh lebih mengenaskan.

Bagaimana tidak? Aliya, seorang remaja yang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hatinya harus terpatahkan karena sahabatnya sendiri.

“Al, sebenarnya perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan.”

Satu kalimat yang di ucapkan Refi masih menetap di kepalanya. Satu kalimat yang mampu membuatnya merasa melayang diatas awan. Setidaknya selama sedetik. Sampai kalimat berikutnya membuat semuanya jungkir balik.

“Tapi aku nggak pernah rela ngelihat kalian jadian.”

Jantung Aliya mencelos saat itu. Kejutan tak menyenangkan itu menghantam tepat ke ulu hatinya. Senyum yang hampir tersungging, kembali turun membentuk raut kecewa.

“Aku juga suka sama Kak Arya.”

Dan semakin Aliya mengingat penjelasan Refi, tangisnya semakin tak terbendung.

“Kami bukan saudara sekandung. Maaf Al, bagaimanapun juga, aku ingin terus bersamanya. Aku nggak mau perhatiannya padaku teralihkan. Dia satu-satunya keluarga yang peduli dan perhatian. Dia selalu ada. Jadi, Al, sembunyikan perasaanmu. Agar dia tetap disampingku. Kamu sahabatku kan?”


Rabu, 17 April 2019

Giliran Aku yang Susah tidur

Habis membaca tulisan dari Melsiana tentang susah tidur. Lalu aku memberi komentar di tulisannya. Ketika susah tidur dan hp pun lowbat yang aku lakukan adalah membiarkan pikiran melayang terbang entah kemana. Lalu, lama kelamaan aku akan tidur sendiri. Biasanya sih gitu. Tapi rasanya, hal itu tidak berlaku untuk malam ini. Aku sudah melakukannya. Membiarkan pikiranku pergi kemanapun yang ku mau. Sayangnya, mataku bahkan tak kuat untuk terpejam lebih lama.

Aku kebingungan, tubuhku bahkan sudah meminta istirahat. Pernah nggak, kamu ngerasa sudah ngantuk berat tapi nggak bisa tidur? Itu yang kurasakan sekarang. Lalu apa yang bisa kulakukan agar mataku mau terpejam lebih lama hingga pergi ke alam mimpi? Apa yang membuatku begitu sulit untuk tidur?

Aku mencari tau, mengingat-ingat apa yang menjadi penyebab diriku sulit tidur. Pada akhirnya, aku berhasil menemukan alasan yang tepat. Alasan sepele yang seharusnya aku sudah tahu sejak tadi sekali.

Kopi😌


Senin, 25 Maret 2019

23:29