Beban

Iri menusukku

Sakit, perih

Muak

Inginku berontak

Berteriak marah

Lepaskan segala emosi

Tangisku pecah

Lelah

Oh, hidup..

Haruskah berjalan begini?

Lepaskan belenggu ini

Legakan sesakku
kembalikan senyumku

Advertisements

Mimpi Pilihan

Mau lari kemana lagi? Yang menyempurnakan ku sudah di depan mata.

“Aku nggak ngerti sama jalan pikiranmu.” Adik Bara menatap Ratna kesal sebelum berpaling menghampiri keluarganya yang sudah diluar. Ratna hanya diam menatap mereka yang menghilang dibalik pintu. Dirinya memilih untuk berbalik pergi menuju tempat tidurnya. Bukan tak menghormati. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa keputusannya sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat.

Tiga hari lagi, Ratna akan pergi meninggalkan rumah ini dan pergi ke negara lain. Ia akan kembali berjuang meraih mimpi, meski harus mengecewakan dua keluarga. Ia tak ingin menyesal dikemudian hari.

*Esok hari

“Apa nggak sebaiknya kamu terima lamaran dia? kalian juga sudah jadi teman dekat kan?” Lily kembali membujuk.

“Kamu tau sendiri. Aku punya ekspektasi sendiri soal masa depan. Kita cuma teman. Seharusnya dia juga tahu apa yang aku inginkan.”

“Nggak mau nikah sebelum lulus S2? Ayolah, memangnya harus? Kamu tetap bisa melanjutkan kuliahmu meski sudah menikah. Jangan membuatnya jadi rumit, Rat.”

Ratna berdecak kesal. Bagi Ratna, temannya yang satu ini memang nggak bisa mengerti dirinya. Meski sudah berkali-kali Ratna menjelaskan. Tetap saja, Lily terus saja mencoba membujuknya.

“Terserah kamu deh. Ini keputusanku. Ini hidupku. Dari pada kamu terus terusan membujukku yang tak akan mempan. Kenapa nggak kamu saja yang nikah sama Bara?”

Lily terkejut dengan pertanyaan Ratna yang terkesan asal bicara, “Nggak lucu tau, Rat. Jelas Bara melamarmu. Jangan asal bicara.”

“Kamu suka sama Bara.”

Satu kalimat Ratna berhasil membuat jantung Lily mencelos begitu saja. Tak menyangka kalau Ratna akan membahasnya disaat seperti ini. Lily tergagu.

“Rat… Kenapa kamu bilang kayak gitu?”

Ratna menoleh menatap Lily, “karena itu fakta. Iya kan?”

Lily hanya bisa diam tak menyangkal. Bara, lelaki yang ia kagumi sampai membuat hatinya terjatuh sejak berada di kelas yang sama. Sampai sekarang, meski sudah mencoba melupakan bahkan tak pernah membicarakan tentang dia. Tapi tetap saja rasa itu masih utuh. Ia tahu, pada akhirnya ia akan sakit. Ketika Bara menemukan masa depannya. Sekarang, ia menerima resiko paling menyakitkan.

“Kenapa diam?” Ratna membuyarkan pikiran lily. Sedangkan Lily hanya membalas dengan dehaman.

“Benarkan, kamu masih suka sama Bara? Jangan sakiti diri sendiri dengan menutupi perasaan. Apalagi sampai memintaku bersamanya. Cinta nggak sebercanda itu.” Ratna terkekeh setelah mengatakannya.

“Ini bukan soal perasaanku. Tapi kalian. Kalau kamu mau bilang aku berlebihan, silahkan. kenyataannya, dia melamarmu. Itu artinya ingin bersamamu. Bagiku cinta itu bukan soal mendapatkan, tapi soal merelakan. Dan siapa yang tahu, mungkin saja besok rasa itu menghilang begitu saja.”

“Hh, dasar. Sok tegar.” Kata Ratna sinis.

Lily menghela napas. Matanya memejam sebentar. Ia lalu berdeham, “ehm, ya sudahlah. Sepertinya pembicaraan kita mulai tak enak. Aku pulang dulu.” Lily lalu berdiri dan melangkah pergi. Perasaanya memang sudah tak enak. Sesak. Ia ingin pergi. Menjauh. Menyendiri. Lalu menangis sepuas hati.

Ratna membuka kunci di layar ponselnya. Setelah terbuka, ibu jarinya menggeser dan menyentuh icon kontak yang tertera. Mencari nama Bara. Setelah menemukannya, jarinya lantas menyentuh tanda telepon. Ya, Ratna hendak menelpon Bara.

Setelah menunggu setidaknya 30 detik, akhirnya telepon terjawab.

“Ya, ada apa Rat?” Tanya suara dari seberang telepon.

Ratna menghirup napas pelan kemudian menghembuskannya, “Aku mau kita ketemu. Sekarang.”

“O-oke. Kamu dimana?”

“Nanti ku sharelok.”

Sebelum Bara menjawab lagi, Ratna langsung menutup teleponnya.

****

“Ratna!”

Suara itu menghentikan langkahnya. Meski begitu, Ia tak berniat membalikkan tubuh. Hanya menarik napas dalam, berusaha untuk terlihat bahagia. Langkah kaki itu semakin dekat dan cepat. Sampai, sebuah tangan memeluknya erat dari belakang.

“Untung masih bisa bertemu.” Lily menempelkan dahinya di pundak Ratna. Lega karena masih bisa bertemu.

“Nggak usah lebay deh. Cuma pergi ke negara lain. Nggak malu apa? Banyak yang lihat kita.” Ratna membalikkan badan setelah pelukan dari Lily melepas. Terkejut. Beberapa meter di belakang lily, sosok Bara berdiri menatapnya. Ratna terpaku. Jantungnya mencelos. Butuh beberapa detik untuk menetralkan keterkejutannya. Ia mencoba tersenyum. Dan Bara pun membalas dengan senyuman juga.

“Rat, makasih.” Lily berucap sambil tersenyum. Namun matanya berkaca-kaca dan mulai menitikkan air. Ratna tersenyum. Tangannya menempel di pundak Lily, “Jaga dia baik-baik.”

Bara melangkah menghampiri Lily dan Ratna. Ia juga ingin mengucapkan selamat dan mengantarkan sahabat terbaiknya mengejar mimpinya. Berpisah. Ia tau, pasti akan ada yang hampa. Walaubagaimanapun juga, Bara akan akan bahagia melihat sahabatnya menemukan apa yang diimpikannya.

“Semangat, Rat!! Jaga diri baik-baik.” Kata Bara singkat. Entah mengapa, ia merasa canggung. Ia tak tahu, rasanya seperti ada sekat yang memberi jarak antara mereka.

“Pasti lah!” Jawab Ratna tersenyum. Ia tak kalah canggung. Tapi, rasa sesak di dadanya jauh lebih besar. Ia berharap segera naik pesawat dan mendarat di dataran lain dengan cepat.

**************

Lily merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit. Tapi, pikirannya menerawang jauh ke tempat dimana ratusan kupu-kupu masuk ke perut dan membuatnya terbang melayang. Bahagia.

Saat itu, Bara memandang langit senja yang indah. Dahi Lily berkerut. Ia tak paham dengan sikap Bara. Apa maksudnya ia tiba-tiba mengajaknya bertemu di taman. Lalu setelah sampai, ia hanya duduk diam dan membuatnya kebingungan.

“Ada apa sih? Kamu aneh.”

Bara malah tertawa hingga membuat Lily semakin kesal, “Tidak papa. Aku hanya mau bilang kalau aku nggak jadi sama Ratna.”

Deg.

Jantung Lily mencelos. Beragam pertanyaan muncul di benaknya. Setega itukah Ratna pada Bara Sahabatnya sendiri sejak kecil? Jelas, Ratna tahu kehidupan Bara bahkan ia dekat dengan keluarganya. Ia juga tahu alasan Bara ingin segera menikah. Seegois itukah Ratna mengejar mimpinya?

Lily memandang wajah Bara sekilas kemudian memilih menunduk. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia katakan untuk menghiburnya? Bahkan mengucapkan satu kata saja tak bisa.

Bara terkekeh, “Nggak ada inisiatif ngehibur, nih?” Lily spontan menoleh menatap Bara. Sesakit apa hatinya? Lily rasa, hatinya juga sakit. Entah karena kecewa pada Ratna atau mungkin, ia iri pada Ratna.

“Ma’af.” Satu kata itu yang hanya bisa diucapkan Lily. Kata itu semakin membuatnya sesak karena tak bisa melakukan apapun. Sia-sia. Lalu untuk apa selama ini ia menahan perasaan dan menyimpannya rapat-rapat? Bahkan menahan sakit dengan meminta Ratna menerima Bara.

Lily terlalu takut memandang wajah sedihnya. Tapi ia malah mendengar Bara tertawa. “Nggak usah segitunya. Aku nggak papa. Santai aja lagi.”

Lily diam menatap Bara lama. Mencari sesuatu yang disembunyikan dibalik tawanya. Dibalik wajah sumringahnya. Satu alis Bara terangkat. Seolah bertanya, adakah yang salah? Lily baru tersadar sudah bertingkah aneh. Ia lalu mengalihkan pandangannya.

“Kamu aneh Bar.”

“Aneh? Apa yang aneh?”

“Bukannya sedih malah ketawa terus. Ini saking sakit hatinya sampai korslet kali ya.” Lily mencoba bercanda. Mungkin mengikuti alur lebih baik.

“Yah, dikiranya listrik apa. Lagian kenapa harus sedih. Sahabatku pergi mengejar mimpinya. Harus ikut bahagia dan mendukung.” Kata Bara yakin.

Lily tersenyum, “Oke deh.”

“Kalau kamu sendiri, mau mendukung mimpi sahabatmu?”

Lily berpikir Bara masih mencari cara meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya memang benar, “Kenapa tidak? Selama caranya nggak salah.”

“Aku yakin caraku sudah benar. Jadi, Li, maukah kamu mendukung mimpi sahabatmu ini?”

Ada rasa sedih ketika mendengar Bara mengucap kata ‘sahabat’, namun ia mencoba menetralkan perasaannya itu. Yang pasti sebuah rasa penasaran menghinggapi pikirannya. Mimpi? Ya, sepertinya Bara akan bercerita tentang mimpinya, “Tentu saja. Apapun mimpimu.”

Tiba-tiba Bara bangun dari duduknya. Membuat Lily keheranan. Tangan kanan Bara masuk ke saku. Kemudian tanpa disangka, Bara menekuk kakinya lalu mengeluarkan benda kecil melingkar dari sakunya. Membuat Lily terpaku.

“Lily, sahabatku. Menikahlah denganku dan wujudkan mimpiku.” Bara mendekatkan cincin itu pada Lily. Matanya menatap Lily dalam.

Lily terpaku lama. Ia masih tak bisa mencerna apa yang terjadi sekarang. Merasa ini hanya mimpi. Atau, pantaskah dirinya mendapatkannya?

“Li, jawablah. Kakiku mulai pegal. Sumpah.” Bara meringis dan Lily tertawa karenanya.

“Apa’an sih, Bar.”

Bara akhirnya berdiri meraih satu tangan Lily dan memasukkan cincin ke jari manisnya.

“Aku tahu jawabanmu. Tapi aku ingin mendengarnya langsung.” Bara berdiri dengan kepala menunduk memandang Lily yang masih duduk.

“Bara, kamu mau tau jawabanku?” Lily menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia kemudian menengadah menatap mata Bara,” Kamu mau tau jawabanku?” tanya Lily sekali lagi. Bara mengangguk.

“Kamu sok tahu, sok tegar dan gegabah.” Lily memilih melepas cincin yang melingkar di jarinya. Bara berusaha mencegahnya. “Apa?!” Lily menatap Bara tajam.

“Bisa beri aku kesempatan menjelaskannya.” Bara kembali duduk. Matanya mengarah kedepan. hari sudah mulai gelap.

“Aku sudah dengar dari cerita Ratna. Tentang perasaanmu sejak kelas sebelas. Kamu tak pernah mengutarakannya. Kalau kamu berpikir saat itu aku hanya tertarik pada Ratna. Iya, itu benar. Tapi kenyataannya, aku sadar kalau sahabat tetaplah sahabat. Rasa itu tak bertumbuh. Layu.”

Bara mengambil napas agak panjang. Ia memberi kesempatan Lily untuk bicara tapi nyatanya Lily hanya diam saja. Jadi, Bara melanjutkan, “Kemudian, rasa itu menemukan airnya yang baru. Yang membuatnya tumbuh lagi. Lalu mimpi itu muncul. Lily, kalau kamu bilang aku gegabah, aku mengakuinya. Tapi itu saat aku meminta Ratna. Saat itu aku tak hanya gegabah, tapi juga egois.”

“Maksudmu?” Tanya Lily tak mengerti. Apa yang dimaksud dengan egois dan gegabahnya Bara? Bukankah semua itu juga untuk orangtuanya? Itu tak salah bukan?

“Iya, aku gegabah karena terlalu mudah mengambil keputusan dengan hendak menikah dengan Ratna. Aku juga egois, sudah memaksanya melepas mimpi.”

Lily terdiam, baginya Bara tidaklah salah. Namun, jika dirinya berada diposisi Ratna, ia mungkin juga akan marah dan menganggap Bara egois.

“Semua itu, karena aku tak mau menuruti keinginan hati. Lily, sekarang aku kesini, untuk menuruti keinginan hatiku. Mimpiku.”

Bibir Lily tertarik. Ia tak bisa menahan senyumnya. Bara pun terkekeh melihat senyum yang terpatri di wajah Lily.

“Tapi Bara, aku nggak bisa seperti Ratna yang akan mengajakmu berdebat habis-habisan.” Ucap Lily dengan kekehannya.

“Aku nggak butuh yang sempurna. Aku butuh yang menyempurnakanku. Jadi, mau lari kemana lagi? Yang menyempurnakan ku sudah di depan mata.”


4 Desember 2018

Lagi

Kembali lagi

Aku mulai mengagumi

Sosok pemimpin

Yang tak berhenti mengapresiasi

Senyum menenangkan

Sikap tenangnya

Mata teduhnya

Dia

Antara kesederhanaan dan kemewahan

Membuatnya terlihat bijaksana

Tanpa merendahkan

Allah..

Aku mulai jatuh lagi


Senin,13 November 2018

Trimakasih Untukmu

Orang-orang mengucapkannya

Sosok yang keberaniannya memberikan pertahanan untuk anaknya

Seorang pemimpin sekaligus pelindung

Tegap berdiri bertahan untuk tak rapuh

Aku menemukan itu

Di wajah teduhmu

Di senyum tentrammu

Di dalam kelembutanmu

Aku tak perlu mencari

Karena aku tahu

Ada dua jiwa dalam satu tubuhmu

Satu-satunya orangtuaku

Trimakasih

Untukmu Ibu


Senin, 12 November 2018

Kuliah

Apa sih yang ada dipikiranmu tentang hal itu? Seru? Penuh tantangan? Atau sesuatu yang menguras pikiran?

Aku kira, kuliah adalah sesuatu yang horor, namun akan mengubah hidup. Seseorang yang sudah melewati masa-masa menjadi mahasiswa. Ia akan mempunyai bekal yang matang. Punya jaringan luas.

Tapi disini, sekarang. Aku merasa itu hanya ekspektasiku belaka. Aku merasa itu begitu membosankan. Duduk dalam ruangan. Presentasi. Membuat makalah. Sibuk mencari pertanyaan untuk diajukan. Dan berakhir menguap karena terlalu bosan. Kalau begini, apa bedanya dengan masa sekolah?


Senin, 29 Oktober 2018

16:11

Mendadak Bangun Tengah Malam

Awalnya aku parno. Takut. Tapi ternyata aku sadar, ini kode dari Allah. Malam ini, tiba-tiba saja aku terjaga dari tidur. Nggak tau kenapa. Spontan saja jantungku berpacu cepat. Aku masih memejamkan mata. Tapi aku sadar, aku sudah tidak bermimpi. Alias bangun tidur. Takut? Iya.

Beberapa pertanyaan mulai muncul di pikiranku. Kenapa aku tiba-tiba bangun? Kenapa aku terkejut? Kenapa aku mulai deg-degan? Dan ini jam berapa? Sudah berapa lama aku tidur? Ini kenapa? Ya, aku mulai panik.

Masih memejamkan mata, kuganti posisi tidurku. Pikiranku melayang ke saat dimana aku mendengar cerita agak horor. Apa gara-gara itu? Panik ku makin menjadi. Tapi kantukku sudah pergi entah kemana. Bahkan mataku mulai lelah terpejam. Akhirnya, dengan masih merasa takut, kubuka mataku dengan membaca basmalah.

Kulirik ponsel di sebelah tempatku tidur. Kuharap ini mendekati subuh. Jadi, aku tak perlu memaksakan diri untuk kembali tidur. Nyatanya, fakta tak mau mengalah dengan ekspektasi. Jam di ponselku menunjukkan pukul 12 lebih. Masih tengah malam.

Aku mau ngapain?

Kulirik temanku yang sudah tertidur pulas. Kuharap salah satu dari mereka mengalami hal yang sama denganku. Nyatanya, tidur mereka kelihatan begitu nikmat. Ah, sudahlah. Akhirnya, kuputuskan membuka aplikasi Wa. Kulihat story yang baru muncul beberapa menit yang lalu.

Wah, ternyata ada yang belum tidur. Secercah harapan muncul. Akhirnya ada temen. Kuputuskan untuk chat dengan dia.

Sedikit berbasa-basi. Dan ternyata dia belum bisa tidur. Aku juga bilang tentang bangun mendadak ku. Kau tau, apa jawabnya?

“Alhamdulillah, berarti di suruh tahajud sama Allah.”

Jleb!

Seketika aku langsung merasa tertohok. Kok aku nggak ngeh ya?


Jum’at, 31 Agustus 2018 2:37

Terimakasih Allah

Kembali, Engkau berikan ku kesempatan tuk bangun di pagi hari. Aku sungguh berterimakasih. Satu hari telah berlalu. Kau isi hari ku itu dengan tawa dan kelegaan. Kau tunjukkan padaku, orang baik tanpa pamrih yang bahkan meskipun sama sekali tak mengenal. Allah, aku tau, syukurku tak kan pernah sebanding dengan nikmatMu. Dan keluh kesahku yang selalu hadir saat Kau mengujiku. Kau berikan kemudahan, kelapangan dan kelegaan setiap satu kesulitan telah terlewat. Di dalam FirmanMu kau meminta hambaMu untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan suatu urusan. Kau mengajak kami untuk tidak takut ketika di jalan yang benar. Sungguh, petunjukMu luar biasa. Rugi, bila semakin hari, aku kian menjauh. Rugi, ketika hatiku mulai tak teguh. Allah, Yang Maha Menguatkan. Kuatkan lah hatiku untuk tetap memegang erat tali agamaMu. Untuk tetap teguh mengikutiMu.

Selasa, 28 Agustus 2018